ZMedia Purwodadi

Gembira Menyambut Maulid, Bahagia Meneladani Akhlaknya

Table of Contents

Gembira Menyambut Maulid, Bahagia Meneladani Akhlaknya

"Kegembiraan yang paling murni adalah kegembiraan yang menuntun hati untuk berubah menjadi lebih baik." (Ibn 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam, abad ke-13 M)

Setiap kali bulan Rabiul Awal tiba, ada kehangatan yang menyelimuti hati umat Islam di berbagai penjuru dunia, lantunan shalawat berkumandang di masjid dan majelis, wajah-wajah berseri menyambut kelahiran manusia paling mulia, dan suasana penuh cinta yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kegembiraan semacam ini sesungguhnya bukan hal asing dalam sejarah para nabi dan orang-orang shaleh; mereka pun senantiasa bergembira atas datangnya rahmat dan karunia Allah, sebab kegembiraan yang lahir dari cinta kepada kebaikan adalah fitrah yang diakui dalam Islam.

Rasulullah saw sendiri menunjukkan bahwa peristiwa besar dalam sejarah kenabian layak disambut dengan kegembiraan dan rasa syukur. Ketika beliau tiba di Madinah saat hijrah, penduduknya menyambut dengan penuh sukacita, bershalawat dan bergembira menyambut kedatangan beliau dan Rasulullah saw tidak melarang kegembiraan tersebut, bahkan turut merasakan kehangatannya. Beliau bersabda,

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani)

Hadis ini menjadi pengingat indah bahwa kegembiraan mengenang kelahiran beliau sesungguhnya adalah pintu masuk menuju tujuan yang lebih agung, yaitu menyempurnakan akhlak, bukan sekadar euforia sesaat yang berlalu begitu saja. Allah Swt berfirman,

"Katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan'." (QS. Yunus: 58).

Ayat ini bagaikan pelita yang menerangi hati bahwa bergembira atas rahmat Allah, termasuk kehadiran Rasul-Nya sebagai rahmat bagi semesta alam, adalah kegembiraan yang jauh lebih berharga daripada gemerlap dunia yang fana, sebagaimana cahaya rembulan yang jauh lebih menenteramkan dibanding kilauan permata yang cepat pudar.

Kisah sahabat mulia, Ka'ab bin Malik ra, memberikan teladan indah tentang bagaimana kegembiraan yang tulus berbuah pada perubahan akhlak yang nyata. Ketika Allah menerima taubatnya setelah lama tertahan karena kesalahannya tidak ikut Perang Tabuk, ia bergembira luar biasa hingga berlari menuju masjid menemui Rasulullah saw. Dalam kegembiraan itu, ia berkata,

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya di antara taubatku adalah aku akan melepaskan seluruh hartaku sebagai sedekah karena Allah dan Rasul-Nya." Rasulullah saw pun menjawab dengan lembut, "Tahanlah sebagian hartamu, itu lebih baik bagimu."

Kisah ini menunjukkan bahwa kegembiraan sejati selalu berbuah pada amal dan akhlak yang nyata, bukan sekadar perasaan yang berhenti di dada. Sebagai penguat, terdapat kata hikmah dari Imam Al-Ghazali,

"Kegembiraan seorang mukmin yang sejati adalah ketika ia merasakan bertambahnya dekat dirinya dengan akhlak kekasihnya, bukan sekadar bertambahnya ramai perayaan." (Ihya' Ulumuddin).

Kata hikmah ini mengingatkan bahwa kebahagiaan menyambut Maulid akan semakin bermakna ketika berbanding lurus dengan bertambahnya kelembutan, kejujuran, dan kasih sayang dalam diri kita.

Di era digital saat ini, kegembiraan menyambut Maulid dapat diekspresikan dengan begitu indah, ucapan shalawat yang tersebar luas, konten edukatif tentang sirah Nabi, hingga kajian daring yang menjangkau siapa saja. Rasulullah saw mengingatkan,

"Sebarkanlah salam, berikanlah makan, sambunglah tali silaturahmi, dan shalatlah di waktu malam ketika manusia terlelap, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat." (HR. Tirmidzi)

Sebuah ajaran yang begitu relevan untuk dihidupkan kembali di setiap momen kegembiraan Maulid, agar bukan hanya ramai di layar, tetapi juga hidup dalam interaksi sehari-hari.

Perlu diwaspadai agar kegembiraan ini tidak tergelincir pada perdebatan yang memecah belah (tafarruq) atau saling menyalahkan sesama muslim yang berbeda cara dalam mengekspresikan kecintaannya kepada Nabi, sebab esensi Maulid justru adalah persatuan dalam cinta, bukan perpecahan karena perbedaan cara merayakannya. Sebagai solusi, Allah Swt berfirman,

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai." (QS. Ali 'Imran: 103).

Jadilah seperti bunga yang mekar menebar keharuman tanpa membedakan siapa yang menghirupnya, sebagaimana kegembiraan Maulid seharusnya menebar kebaikan bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang. Jadilah pula seperti hujan yang turun membasahi setiap jengkal tanah dengan rahmat yang sama, sebagaimana akhlak Rasulullah saw yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Ingatlah bahwa kelak setiap kegembiraan yang kita rayakan akan ditanya buahnya, apakah ia melahirkan akhlak yang mulia, ataukah hanya menjadi euforia yang berlalu tanpa bekas.

Ya Allah, jadikanlah kegembiraan kami menyambut kelahiran Rasul-Mu sebagai jalan menuju akhlak yang lebih mulia, tumbuhkanlah dalam diri kami kelembutan dan kasih sayang sebagaimana yang beliau ajarkan, dan satukanlah hati kami dalam cinta kepadanya tanpa perpecahan. Amin.

By: Ahmad Jais

Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kaimantan Barat, Founder & Master Trainer : Mind Healing Technique of Indonesia. www.mhtindonesia.com

Posting Komentar